Tech

  • 5 Gadget Tercanggih di Tahun 2017 yang Bisa Dipakai Saat Traveling

    Ajang tahunan Customer Electronic Show (CES) 2017 selalu menjadi sorotan dunia karena produk-produk teknologi yang dipamerkan. Acara ini kerap menjadi ajang bergengsi yang menjadi awal mula perkenalan dunia dengan produk-produk elektronik revolusioner, seperti pemutar kaset VCR pada masa lampau sampai wearables dan drone yang sedang digandrungi masyakarat dunia saat ini.

    Berikut adalah hasil penelusuran kami akan produk elektronik yang muncul di CES 2017 dan bisa jadi teman selama melancong:

    1. RAZER PROJECT VALERIE

    razer_project_valerie_ces2017_00

    Bagi seorang pelancong yang hobi main video game, bermain game bisa jadi layaknya sebuah ritual yang wajib untuk dilakukan dimana dan kapan saja, tidak terkecuali saat melancong ke luar negeri sekalipun. Bila Wearinasians adalah gamer kelas berat, mungkin bisa mempertimbangkan Razer Project Valerie, sebuah laptop gaming yang didesain dengan tiga layar dengan resolusi visual 4K!

    2. POWERRAY AQUATIC DRONE

    bdpng

    Aktifitas memancing akan semakin menarik dengan bantuan drone pemancing. Drone PowerRay Aquatic ini tidak hanya memvisualisasikan area bawah air ke aplikasi aplikasi smartphone atau tablet penggunanya tetapi juga dapat menyajikan data dan membantu penangkapan ikan. Sedangkan untuk sensasi yang lebih ril, Wearinasians bisa juga mengenakan kacamata VR untuk sensasi menyelam dari sudut pandang pertama.

    3. WILLOW BREAST PUMP AND HAND LIBERATOR

    home_band_3_1

    Bagi para ibu yang sedang menyusui dan masih memberikan ASI eksklusif, tentunya memerah susu asi terkadang dirasa kurang praktis dan mengharuskan aktifitas terhenti. Untuk mempermudah proses ini Willow breast pump mampu memerah susu secara otomatis dengan motor yang dapat diisi kembali baterainya. ASI akan tersimpan pada kantong yang tertanam di dalam mesin berbentuk bra ini.

    4. KAMERA POLAROID POP FUNKY INSTAPRINT

    polaroid-snaptouch-popthumb

    Polaroid, merek pembuat foto langsung jadi yang telah berumur 80 tahun lebih ini, memamerkan sederet produk seperti Polaroid Snap Touch Instant dan Polaroid Zip Instant Photoprinter yang tergabung dalam kategori Polaroid Pop Instant Digital Camera. Produk Polaroid kali ini tampil dengan layar sentuh dan dapat langsung dicetak setelah foto diambil, apabila ingin mencetak foto dari smartphone, Wearinasians bisa menggunakan Polaroid Zip Instant Photoprinter, yang ukurannya mudah untuk dimasukkan ke saku celana. Printer dapat beroperasi melalui aplikasi yang dapat beroperasi di perangkat Andoir dan iOS.

    5. HONDA SELF-BALANCING MOTORCYCLE CONCEPT

    honda-self-balancing-bike_827x510_61483692103 (1)

    CES juga menjadi ajang pamer perusahaan otomotif untuk memamerkan produk-produk prototype mereka. Salah satunya adalah Honda yang memperkenalkan motor yang dapat menyeimbangkan dirinya sendiri. Moda transportasi aman nan nyaman, namun juga tetap terlihat macho ini, pastinya akan menjadi pilihan menarik bagi para pelancong yang suka melakukan touring dalam jarak yang ekstrim.

  • Harga & Spesifikasi DJI Inspire 2: Evolusi DJI Inspire Untuk Dunia Sinematografi

    ulasan-dji-inspire-2

    DJI Inspire 1 yang telah diperkenalkan pada tahun 2014 dan 2015 (untuk Inspire 1 Pro) lalu, telah menjadi acuan dunia sinematografi dikarenakan fungsi gimbalnya yang detachable alias bisa dicabut pasang. Pada jam 3 subuh Rabu WIB, bersamaan dengan perilisan DJI Phantom 4 Pro, DJI Inspire 2 resmi dipamerkan dan diperagakan dengan berlatarkan adegan tembak-menembak ala film Hollywood. Apa kira-kira yang membuat DJI Inspire 2 menjadi varian yang menarik, khususnya bagi para sineas sinematografi profesional? Berikut adalah spesifikasi yang ditonjolkan DJI beberapa jam lalu.

    KAMERA DJI INSPIRE 2 

    Di Wearinasia, kami sering menjelaskan pada konsumen, bahwa pengembangan utama untuk lini produk DJI Inspire, selalu mengedepankan pada performa visual. Melebihi pendahulunya DJI Inspire 1 V2.0 dan DJI Inspire 1 Pro/Raw yang menggunakan Zenmuse X3, X5, dan X5R, gennerasi terbaru Inspire hadir dengan dua pilihan kamera yakni Zenmuse X4S atau Zenmuse X5S. Sesuai dengan tekad DJI untuk menyasar pasar pembuat film profesional, untuk urusan kamera DJI menggunakan perangkat lunak CineCore 2.0 yang mampu menangkap 5.2K pada 4.2Gbps bitrate, kapasitas yang super tinggi ini membuat Inspire dilengkapi SSD onboard.

    Sensor DJI Inspire 2 berlabel 4/3 dan mendukung 10 jenis lensa berbeda, termasuk lensa zoom. Untuk urusan paska produksi, DJI memanjakan sineas perfiman dengan format kompresi CinemaDNG dan Apple ProRes. Dan untuk para fotografer yang sangat picky dalam menyunting, dapat menggunakan format DNG RAW yang dapat menangkap visual 30-megapixel still images. Di sisi lain bagi para profesional di industri TV dapat menikmati mode broadcast pada 1080i 50 dan 720p 60.

    Tidak hanya mampu berotasi sampai 360 derajat, DJI Inspire 2 juga memiliki kamera kedua, berjenis FPV dengan 2-axis yang memungkinkan pilot drone untuk melihat arah pergerakan drone, ketika kamera utama sedang fokus mengarah mengambil objek yang ditargetkan.

    BATERAI DAN DURASI TERBANG DJI INSPIRE 2 

    Baterai DJI Inspire 2 datang dengan desain dual dan menempel langsung dengan sistem self-heating. Pengembangan ini memberikan kemampuan bagi DJI Inspire 2 untuk menjaga temperatur saat beroperasi di suhu ekstrim dan durasi terbang juga melonjak dari 18 menit ke 25 menit.

    KECEPATAN DAN TINGGI TERBANG DJI INSPIRE 2 

    Untuk urusan kecepatan, DJI Inspire 2 dapat melesat sampai 107KM/JAM dari versi DJI Inspire 1 pendahulunya yang hanya mampu dipacu sampai kecepatan 80KM/JAM. Pengembangan ini merupakan hasil pengembangan materi magnesium-aluminium yang menjadi bahan utama pembuatan DJI Inspire 2. Inspire DJI Inspire 2 dapat terbang tinggi sampai 5KM dari permukaan laut.

    SENSOR DAN KEMAMPUAN TERBANG OTONOM DJI INSPIRE 2 

    Serupa dengan DJI Mavic Pro dan DJI Phantom 4 Pro didukung oleh beragam sensor, salah satu pengembangan yang paling baru ialah, sensor pada bagian atas body DJI Inspire 2, yang membuat DJI Inspire 2 mampu bernavigasi ke zona beratap yang kerap menghadang sinyal GPS. Fitur otonom ActiveTrack yang selama berapa bulan belakangan menjadi hak istimewa pemilik DJI Phantom 4, sekarang juga muncul di DJI Inspire 2 dengan dua pilihan mode, yakni Profile, dimana drone akan mengikuti objek secara horizontal dan Spotlight, drone akan menyoroti objek dari atas. Saat mengoperasikan fitur otonom seperti ini, Wearinasians akan sangat dibantu dengan teknologi ObstacleAvoidance yang memampukan Inspire untuk menghindar atau behenti apabila ada rintangan yang tidak dapat dilewati.

    HARGA DJI INSPIRE 2 

    Berdasarkan informasi yang diunggah di situs resmi DJI.com, untuk mendapatkan DJI Inspire 2 berwarna hitam ini, Wearinasians harus siap merogoh kocek sedalam US$2.999 alias Rp40jutaan. Tentunya dengan label harga selangit seperti ini, pangsa pasar DJI Inspire 2 akan spesfifik menyasar korporasi dan para pelaku film profesional.

    Bagaimana pendapat Wearinasians? Terutama pengguna DJI Inspire 1, apakah fitur dan segudang spesifikasi DJI Inspire 2 di atas, cukup mampu merayu kalian untuk memperbarui drone kalian?

  • DJI Perkenalkan DJI Phantom 4 Pro: Harga & Spesifikasi

    Rabu sekitar jam 3 waktu WIB, DJI, produsen drone paling terkemuka di dunia baru saja meluncurkan DJI Phantom 4 Pro, versi pembaruan dari DJI Phantom 4, yang baru saja dirilis pada Maret lalu. DJI Phantom 4 Pro yang dibanderol dengan dua harga ini, memiliki pengembangan pesat dari segi kamera, sensor penghindar, durasi terbang baterai yang lebih panjang, dan tambahan beragam mode terbang pintar.

    screen-shot-2016-11-16-at-08-43-48

    Secara tak langsung, video demo dari DJI Phantom 4 Pro memperlihatkan betapa kontrasnya perbedaan spesikasi antara saudara kecilnya, DJI Mavic Pro, yang kemampuannya banyak dipersepsikan orang, mirip dengan versi DJI Phantom 4 perdana.

    KAMERA DJI PHANTOM 4 PRO

    Tidak seperti DJI Phantom 4, yang menurut kami di Wearinasia.com, tidak terlalu kontras pengembangannya jika dibandingkan dengan DJI Phantom 3 Pro, DJI Phantom 4 memanfaatkan sensor kamera yang lebih besar yakni 1-inch CMOS sensor yang dapat menjepret objek dalam resolusi 20 megapixel, melonjak 6 megapixel dari DJI Phantom 4 reguler. Sedangkan untuk dynamic range mampu mencapai 11.6, yang secara sederhana menandakan drone anyar perusahaan TIongkok ini, mampu membedakan kekontrasan cahaya dan menyeimbangkannya.

    Pengambilan gambar mirip "Jell-O" yang kerap terlihat pada seri DJI Phantom terdahulu, diklaim DJI mulai teratasi dengan sistem shutter DJI Phantom 4 Pro yang telah diperbaharui. Sedangkan aperture juga dapat diatur sehingga fotografer dapat lebih leluasa dalam menentukan Depth of Field (DOV). Dan pada mode burst DJI Phantom 4 Pro dapat menangkap 14 foto dalam satu detik dan menangkap video slow motion dalam tempo 60 detik.

    SENSOR DJI PHANTOM 4 PRO

    Sensor Obstacle Avoidance yang awalnya hanya menempel pada bagian depan, sekarang tampil hampir di "sekujur" badan DJI Phantom Pro atau tempat nya di keempat sisi drone quadcopter ini, sehingga klaim Yuneec bahwa Yuneec Typhoon H Pro sebagai satu-satunya drone yang memiliki sensor 360 derajat sudah tidak valid lagi, karena saat ini DJI Phantom 4 Pro sudah mampu menghindari rintangan dari segala arah. Khusus pada sisi kiri dan kanan DJI Phantom 4 Pro menggunakan teknologi infra merah. Berkat pengembangan sensor ini, kecepatan terbang pada kondisi mode Obstacle Avoidance menyala meningkat dari 35KM/jam menjadi 49KM/jam.

    REMOT DJI PHANTOM 4 PRO DENGAN LAYAR BUILT IN

    Seperti yang diesebutkan di awal artikel, DJI Phantom 4 Pro dibanderol dalam dua harga yang berbeda, ini dikarenakan ada varian paket dengan layar remot built in, yakni DJI Phantom 4 Pro + dan tanpa layar (seperti versi pendahulunya). Bukan pengembangan yang baru, karena sudah dilakukan kompetitor seperti Yuneec. Namun pengembangan ini setidaknya membuat pilot drone tak harus menguras baterai smartphone atau tablet yang menjadi pegangan berkomunkasi sehari-hari.

    BATERAI DJI PHANTOM 4 PRO BERDURASI 30 MENIT?

    DJI Phantom 4 sempat menjadi pemimpin pasar drone konsumen dengan durasi terbang 22-23 menit (kondisi terbang saat keadaan sangat ideal), sekarang DJI Phantom 4 Pro didapuk mampu mengudara sampai 30 menit. Namun seperti yang Wearinasians tahu, umumnya ada gap cukup signifikan antara klaim DJI dengan faktanya di dunia nyata, namun ini tetaplah sifnifikan dan menempatkan DJI Phantom 4 Pro kembali memimpin pasaran dengan durasi terbang terlama, untuk kelas drone konsumen.

    MODE PINTAR: ACTIVE TRACK PUNYA TIGA VARIAN MODE BARU

    Konsumen di Wearinasia.com, paling terkesan dengan fitur active track, fitur canggih yang memampukan drone untuk membuntuti suatu objek dengan cara cukup mengetuk visual objek tersebut di layar smartphone atau tablet (dengan kondisi aplikasi DJI Go menyala). Sekarang DJI Phantom 4 Pro Muncul dengan tiga mode active trackprofile membuntuti objek secara horizonal alias dari samping, spotlight merekam dari sudut atas dan mengikuti objek layaknya lampu sorot, dan Circle terbang mengelilingi objek secara 360 derajat. Dan tak ketinggalan, pengembangan tap fly (mode terbang menuju arah yang diketuk via aplikasi) yang mengkombinasikan dengan selfie alias drone selfie.

    Mode Waypoint juga dikembangkan untuk semakin mudah dioperasikan, tak seperti versi terdahulu, yang mengharuskan wahana drone di terbangkan ke titik-titik yang dikehendaki terlebih dahulu, sebelum pola pengambilan gambar berjalan secara otonom, sekarang dengan Waypoint terbaru, pilot hanya cukup menggambarkan pola secara digital via aplikasi.

    HARGA DJI PHANTOM 4

    Dilansir dari situs resmi DJI.com, untuk paket varian tanpa layar built in, DJI Phantom 4 Pro dibanderol US$1499 dan versi sebaliknya US$1799. Apakah harga dan spesifikasi pada artikel ini, membuat Wearinasians ingin memperbarui DJI Phantom 4 kalian? Yang jelas DJI semakin menegaskan dominasinya di pasar drone dengan perilisan lini produk terbarunya ini, terbukti dengan perilisan DJI Inspire 2 yang dirilis pada haru yang sama.

    Jadi siapakah yang akan menjawab dominasi DJI? Apakah Yuneec? 3DR? (tidak mungkin, karena mereka mengibarkan bendera putih untuk industri konsumen drone) atau siapa?

    Hanya satu yang bisa saya ucapkan "DJI Akan Menjadi Apa yang Dicita-citakannya, yakni Apple Bagi Industri Drone". Apakah Wearinasians setuju? Berikan komentarnya di kolom komen, saya ingin mengetahui pendapat kalian :)

     

  • Masa Depan Sumber Tenaga Wearable Device Adalah Bendable Battery

    Seperti yang Anda tahu, semua barang elektronik, termasuk Perangkat Wearable yang Anda kenakan sehari-hari, tidak akan bisa berguna tanpa ada sumber tenaga yang menyuplainya. Biasanya, kapasitas baterai untuk perangkat-perangkat Wearable yang beredar saat ini tidak lah besar. Pengguna masih harus melakukan pengisian ulang setidaknya setelah satu setengah hari pemakain. Hal ini dikarenakan karena kapasitas baterai yang besar menuntut ukuran yang besar pula. Tapi, tidak lama lagi hal itu akan segera berubah.

    Baru-baru ini, Panasonic dikabarkan sedang mengembangkan baterai Lithium-Ion jenis baru yang bisa dibengkokkan (bendable). Baterai ini nantinya bisa digunakan dalam segala jenis jenis perangkat termasuk flexible smartphone, smartwatch, fitness bands ataupun smart clothing.

    Bendable baterai ini kabarnya hanya akan memiliki ketebalan 0.02 inches (0.55 millimeters). Hal ini membuat baterai ini dapat dibengkokkan sampai 25 derajat. Untuk kapasitasnya sendiri, Panasonic mengatakan kalau bendable battery ini dapat menyimpan daya antara 17.5 mAh sampai 60 mAh. Dengan kapasitas sebesar itu, Panasonic mungkin harus bekerja laebih keras agar baterai ini bis digunakan untuk smartphone. Tapi untuk smartwatch ataupun smartclothing, baterai sudah cukup mampu untuk membuatnya berfungsi dengan baik.

  • Nintendo Switch: Ulasan Rinci Sampai Saat Ini

    Setelah sekitar satu tahun lebih mengerami projek yang diberi nama "Project NX", akhirnya beberapa waktu lalu, Nintendo memamer trailer konsol terbarunya yang diberi nama Nintendo Switch. Konsol ini berkonsep tajuk pasang, yang meleburkan sensasi bermain di rumah dan saat berpergian.

    nintendo switch

    screen-shot-2016-10-25-at-17-27-41

    Pada video sekitar 3 menit di saluran Youtube resmi Nintendo, terlihat pemain sedang memperagakan sistem buka pasang dari konsol bentukan handheld ke layar TV. Transisi ini dimungkinkan oleh joy stick yang diberi nama "Joy Con", yang juga dilengkapi dengan kemampuan motion sensing alias pendeteksi gerak, sehingga pemain dapat mengontrol permainan dengan menggunakan gerakan, layaknya memainkan konsol Nintendo Wii.

    screen-shot-2016-10-25-at-17-29-44

    Joy Con yang memiliki sisi kanan dan kiri dapat dipisah dan digunakan untuk dua pemain saat permainan berlangsung. Pada video diperagakan permainan anyar seperti Mario Kart dan NBA 2K dimainkan dengan format joy stick mungil tersebut. Sedangkan untuk sesi permainan yang lebih lama atau memerlukan cengkaraman yang lebih baik, pemain bisa menggunakan Joy Stick Pro yang berdesain seperti pengontrol konsol pada umumnya.

    screen-shot-2016-10-25-at-17-31-05

    screen-shot-2016-10-25-at-17-30-19

    Berdasarkan video yang sama, Nintendo juga tampaknya akan meninggalkan format disk game alias game fisik, dengan memperagakan penggunaan kartu memori.

    screen-shot-2016-10-25-at-17-29-14

    Dari segi prosesor, Nintendo Switch jadi satu-satunya konsol, saat ini yang menggunakan Nvidia Tegra yang dikustomisasi khusus. Menurut laman ITTechPost.com, dengan menggunakan prosesor ini, Switch dipastikan dapat menampilkan kualitas gambar yang melebihi PS3 dan XBO 360. Namun laman tersebut secara implisit menyebutkan kualitasnya kemungkinan besar berada di bawah PS4 dan XBOX One.

    screen-shot-2016-10-25-at-17-28-17

    Kesan menarik dari teaser yang dipamerkan Nintendo, sayangnya harus membuat pecinta Nintedo tidak berekspektasi berlebihan terlebih dahulu, pasalnya beberapa pengembang yang game-nya muncul pada teaser tidak mengkonfirmasi kehadiran game besutannya di konsol yang diprediksi meluncur tahun 2017 ini.

  • Masa Depan Foto Selfie adalah Dengan Drone, Bukan Tongsis

    Buat Anda yang suka berpose sambil memakai tongkat narsis atau tongsis, sepertinya masa-masa itu akan segera terlewat. Sebab, Anda tidak lagi membutuhkannya. Yang Anda akan butuhkan adalah sebuah drone yang siap memotret Anda dari berbagai posisi.

    Salah satu drone yang tepat untuk mengakomodir kebutuhan ini adalah Hover Camera Passport. Diproduksi oleh sebuah perusahaan bernama Zero Zero Robotics, drone ini bahkan dijuluki "flying camera" karena kegunaannya ini.

    Hover Camera Passport bisa dikendalikan dengan menggunakan companion apps yang bisa diinstal di smartphone berbasis iOS dan Android. Drone ini bisa terbang sampai setinggi 16 kaki dengan kecepatan sampai 17 mil per jam. Kameranya memiliki resolusi sebesar 13 megapixel. Resolusi ini juga sudah mendukung perekaman video kualitas 4K dengan cukup bagus. Selain itu, kamera Hover Camera Passpot juga sudah dilengkapi dengan teknologi face recognition yang cukup akurat. Sayangnya, masih ada masalah yang harus dihadapi saat mendeteksi berbagai wajah dalam satu kali jepretan.

    Satu poin lebih patut diberikan dari segi desain. Hover Camera Passport hadir dengan desain yang kokoh tapi bisa bisa dilipat. Hal ini membuat drone ini terlihat lebih compact. Untuk harganya, drone ini akan dihargai sekitar $599.

  • Tanding Spesifikasi: DJI Mavic Pro, GoPro Karma, dan Yuneec Breeze

    Selang beberapa hari, setelah Nick Woodman, CEO dari GoPro merilis GoPro Karma, DJI langsung "membalasnya" dengan merilis DJI Mavic Pro. Tak ayal, kedua produk tersebut secara sengit dibandingkan oleh para netizen. Tapi tahukah Wearinasians, kalau pabrikan drone Yuneec juga ikut meramaikan persaingan mini drone dengan menelurkan Breeze? Hmm nampaknya sengitnya pertarunagan Mavic dan Karma, sedikit menenggelamkan Breeze.

    Sekedar untuk informasi, perbandingan antara DJI Mavic Pro, GoPro Karma, dan Yuneec Breeze pada artikel ini, berdasarkan kurasi dari berbagai sumber yang telah yang melakukan review dan hand-on review. Jadi untuk ulasan detil dari Wearinasia sendiri, akan segera dirilis, mulai bulan November, setelah tim Wearinasia menerima salah satu atau dua dari mini-drone yang akan kita ulas dalam artikel ini.

    BERAT

    Bila mulai membicarakan spesifikasi, ada baiknya kita memulai dengan membahas perbedaaan berat antar mini drone. Menurut PetaPixel.com, DJI Mavic Pro memiliki berat 734gram, Karma 1006gram, dan situs resmi Yuneec menyebutkan Breeze memiliki berat 385gram. Jadi untuk urusan berat, Breeze boleh jadi mini drone yang paling enteng.

    DIMENSI

    Salah satu aspek menarik dari mini drone, ialah fungsinya yang dapat dilipat alias foldable (kecuali Yuneec Breeze). DJI Mavic Pro memiliki dimensi 83x83x198mm saat dilipat dan Karma tergolong bongsor pada ukuran 89.9x224x356.2mm. Dan Yuneec Breeze pada ukuran 196x196x65mm.

    dimensi-gopro-and-dji

    Image by Techno Buffalo Image by Techno Buffalo

    KECEPATAN DAN RADIUS TERBANG

    Untuk kecepatan, Mavic Pro merajai kategori mini drone dengan kemampuan melesat secepat 65KM/jam pada mode sport, sedangkan Karma 56.3KM/jam, sedangkan kecepatan Breeze hanya mampu melaju sampai 3.6KM/jam, terlampau jauh untuk dibandingkan dengan Mavic dan Karma. DJI Mavic Pro juga jadi drone dengan kemampuang radius terbang terjauh, yakni 7KM, sedangkan GoPro Karma hanya 3KM, dan Breeze 80M.

    KAMERA

    Secara teknis baik Mavic dan Karma menggunakan sensor 1/2.3 inci dan 12-megapizel CMOS. Salah satu kekurangan Mavic menurut Casey Neistat dan Digital Rev TV ialah kelebaran foto yang kurang bila dibandingkan dengan DJI Phantom 4 dan GoPro Karma. Bagaimana dengan Yuneec Breeze? Mengingat langkanya ulasan terkait drone mungil berwarna putih ini, kami hanya mengetahui klaim perusahaan yang menginfokan bilamana Breeze dilengkapi dengan sensor 1/3.06 dan 13-megapixel CMOS. Tapi hal ini terasa sulit untuk kami cerna, mengingat drone ini dipredikatkan sebagai drone-selfie alias drone mainan.

    Simak perbandingan hasil kamera dari Mavic dan GoPro Hero 5, kamera yang kompatibel dengan Karma, di video berikut ini.

    GIMBAL ALIAS STABILIZER

    Baik DJI Mavic atau GoPro Karma sama-sama mengandalkan 3 axis-gimbal. Untuk GoPro Karma jangkauan gerak atau range of motion nya berada di kisaran -90° ke 0° ke arah atas dan bawah, sedangkan Mavic diklaim mampu menjangkau -90° ke +30° dan menurut PetaPixel.com dapat bergeser, sesuatu yang akan kita buktikan bersama saat di hands on review nanti. Breeze tak masuk dalam hitungan karena kamera dibenamkan di dalam wahana.

    MODE TERBANG PINTAR, OTOMATIS DAN LAIN LAIN

    "Dosa" terbesar GoPro ialah tidak menyaingi DJI dengan fitur follow mode dan collision avoidance sensor. Menurut pengalaman kami, pengguna drone di Indonesia khususnya, memberikan apresiasi sangat positif terhadap DJI Phantom 4 untuk dua mode fitur diatas, oleh karena itu saat sebagian dari calon konsumen mengetahui bilamana DJI Mavic dilengkapi dengan sensor dan fitur serupa dengan DJI Phantom 4, tak perlu waktu lama bagi mereka untuk memutuskan memilih DJI Mavic ketimbang GoPro Karma, apalagi Yuneec Breeze. Tapi Pablo Lema, pimpinan divisi produk aerial GoPro menyebutkan bahwa timnya sedang mengerjakan sensor serupa dengan DJI, yang memungkinkan produk drone GoPro di kemudian hari, juga sama cerdasnya dengan produk DJI, jadi selalu ada harapan bagi para pecinta GoPro :)

    REMOT KONTROL

    DJI Mavic Pro memiliki remote dengan semacam pencapit smartphone di bagian bawah, namun Mavic dapat dioperasikan tanpa atau dengan smartphone. Pada bagian atas layar remot, ada layar LED yang menginfokan pilot dengan data-data penting saat penerbangan. Sedangkan GoPro Karma, mengadopsi konsep remot konsol video game dengan layar touchscreen buka-tutup beresolusi 720p dengan kelebaran 12,7CM. Dan Breeze hanya bisa digunakan dengan aplikasi pada smartphone saja.

    dji_mavik_pro_modes_active_track_mode Image by PCAuthority.com

    HARGA & KETERSEDIAAN

    Untuk urusan harga pasti, sampai artikel ini disusun, hanya DJI Mavic Pro yang memiliki harga pasti, dimana ada dua paket yang ditawarkan, yakni DJI Mavic Pro dibanderol Rp14.990.000.00 dan DJI Mavic Pro Combo (wahana yang sama namun sepaket dengan tas, baterai ekstra, dan lain-lain) Rp19.200.000.00. Untuk sementara waktu GoPro Karma dikabarkan akan difokuskan untuk pasar Amerika Serikat dan Eropa, dari pihak kami di Wearinasia.com, belum menerima sinyal-sinyal atau kejelasan dari pihak lokal terkait berita ini, sepengetahuan kami dari situs GoPro, harga pre-sale GoPro Karma dibanderol pada angka Rp11.186.000.00 TAPI belum termasuk kamera GoPro yang harganya dimulai dari Rp5.400.000.00 dan dijadwalkan dirilis per-tanggal 23 Oktober 2016 waktu Amerika Serikat.

    Jadi mini drone mana yang akan jadi pilihan Wearinasians? Dan apa alasannya? Silahkan respon di kolom komentar.

  • Hobi Baru DJI, Mensponsori "Perang" Robot Di Dunia Nyata

    robomasters-arena Image by The Verge

    "Menurut saya dengan menggabungkan engineering (keinsinyuran) dan hiburan, akan banyak pelajaran yang bisa dikontribusikan kepada dunia ini, ketimbang ketika seseorang menjadi atlit, yang hanya akan menghibur namun kurang berkontribusi untuk aspek lainnya." Ucap Frank Wang Tao, CEO dari Dajian Innovation Technology alias DJI, perusahaan penghasil drone terbesar di dunia. Kira-kira itulah dasar pemikiran dari DJI dalam mensponsori Robomasters, ajang tanding robot canggih beregu yang diselenggarakan secara besar-besaran di Tiongkok.

    Image by The Verge Image by The Verge

    Turnamen tembak-menembak antar robot, yang diikuti ribuan mahasiswa engineering ini, ber-format tim, yang tiap timnya beranggotakan lima operator robot. Masing-masing anggota tim mengontrol jenis robot yang berbeda sesuai dengan fungsinya, misalnya jenis Infantry, semacam panser dengan kanon yang menembakkan bola-bola karet sebagai peluru, Hero, umumnya di-desain khusus dengan kemampuan menembakkan bola golf, yang mana untuk mengambil bola golf, robot yang didesain secara mekanis harus mampu melewati rintangan yang sengaja di desain penyelenggara, Drone juga punya peran yang mirip dengan Hero, namun memiliki keuntungan karena setelah mengambil bola golf, bisa langsung digunakan untuk memborbardir Robot Base lawan, yang menjadi penentu kemenangan salah satu tim, dan yang terakhir Station, berperan sebagai pemasok amunisi bagi rekan setim.

    Layaknya game DOTA atau game Multiplayer Online Battle Arena (MOBA) lainnya, di area-area tertentu robot dapat berhenti untuk mengisi health atau mendapatkan power-up. Sehingga peserta dituntut tak sekedar dapat menciptakan robot dengan teknologi dan mekanis yang efisien, namun juga dituntut untuk memiliki strategi "perang" yang solid.

    Robot Hero, melewati rintangan untuk mengambil bola golf Robot Hero, melewati rintangan untuk mengambil bola golf
    First Person View First Person View

    Inti pengoperasian dari robot-robot ini terdiri dari sistem setir, bagi robot beroda untuk melakukan navigasi, sistem persenjataan, yang mengatur meriam tembak dan laser pengeker, dan sistem charging, yang terdiri sensor pendeteksi kerusakan (saat robot tertembak), sensor kecepatan, dan kamera First Person View (FPV), yang akan menyuguhkan perspektif orang pertama ke komputer peserta.

    Kecanggihan yang paling mengesankan pada kompetisi robot ini terletak pada penggunaan teknologi “Computer Vision” yang memampukan robot Base mampu merespon tembakan dari robot musuh, dengan menembak balik dan menghindar. Ini bukan teknologi sembarangan, karena “Computer Vision” juga digunakan pada mobil-mobil otonom guna memahami objek dan meresponnya dengan aksi tertentu, mulai dari berhenti saat lampu merah sampai memberikan jalan bagi pejalan kaki yang sedang menyeberang.

    Compute Vision, memandu robot untuk menembak papan acak dengan tepat Compute Vision, memandu robot untuk menembak papan acak dengan tepat

    Robomasters menjadi ajang yang saling menguntungkan, baik bagi para mahasiswa engineering maupun sang penyelenggara, DJI. Di satu sisi mahasiswa ingin memperagakan talentanya demi mendapatkan posisi prestisius di DJI, dan di sisi lain, DJI memerlukan inspirasi atau bahkan perlu mengakuisisi ide-ide terobosan yang dikeluarkan peserta saat berkompetisi. Karena bagaimanapun juga, DJI memiliki ambisi untuk tak sekedar menjadi perusahaan penghasil drone kamera, melainkan menjadi perusahaan robotik terbesar di dunia dan merambah ke industri-industri seperti agrikultur atau bahkan mobil otonom, dan untuk melakukan itu diperlukan talenta tim teknis yang kuat, agar dapat beradu saing dengan perusahaan-perusahaan macam Google dan raksasa teknologi lainnya.

    Simak pertandingan final Robomasters 2016? Berikut ini

     

     

  • Smartphone Google Pixel dan Rentetan Produk "Made By Google"

    google-home-pixel-family-1920Smartphone besutan Google yang diberi nama Pixel, menjadi salah satu perangkat yang banyak menyita perhatian para awak media saat acara peluncuran "Made By Google", 4 Oktober 2016, di Amerika Serikat. Berdasarkan penilaian DXO Mark Mobile, kamera pada Pixel mendapat penilaian tertinggi dengan nilai 89, melewati kualitas jepretan Google Nexus 6 bahkan iPhone 7. Kamera Pixel dilengkapi 12,3 megapixel dan Google juga mengklaim, kamera pada Pixel dalam sekejap dapat merekam gambar, sehingga hampir tak ada jeda saat mengambil foto secara berkelanjutan.

    Google Assistant, yang hadir di aplikasi chat Allo, tertanam sepenuhnya pada sistem Pixel. Cukup dengan menekan tombol virtual pada bagian tengah, layaknya memanggil Siri pada iPhone, kecerdasan buatan besutan (AI) Google menampilkan dan mencarikan jawaban dari apa yang Wearinasians perintahkan. Sistem pengenal suara pada AI dapat memproses pencarian gambar dan menampilkan hasil temuannya dalam tempo sepersekian mili-detik. Pixel hadir dalam tiga pilihan warna "Really Blue", "Quite Black", dan "Very silver". Tampilan dan penamaan warna yang menurut tim Google, lebih deskriptif.

    Rick Osterloh, pimpinan divisi perangkat keras Google, mengemukakan, masa depan teknologi akan mengarah pada persimpangan antara perangkat lunak dan keras, dengan AI yang menengahinya. Berdasarkan premis tersebut, tak heran Google assistant menjadi inti dari hampir seluruh produk yang diluncurkan perusahaan pencari raksasa itu. Berikut adalah produk-produk terbaru Google yang baru saja diperkenalkan:

    DAYDREAM VIEW

    Setelah sempat menguji pasar VR dengan Google Cardboard, Google semakin serius mendalami teknologi VR. Keseriusan tersebut dibuktikan dengan peluncuran perangkat penampil VR (VR Viewer), bernama Daydream view. Viewer berbalut bahan mirip kain ini, dipersiapkan untuk seluruh smartphone Android yang dilabeli "Daydream ready". VR Daydream dilengkapi dengan remot kontrol, yang berfungsi untuk berinteraksi dengan konten VR. Bentuknya yang eklips dilengkapi dengan touchpad dan sensor gerak yang keakuratannya diklaim dapat digunakan untuk menggambar.

    google-daydream-view-vr-headset-colors_1278

    GOOGLE WIFI

    Modem modular yang dapat saling terkoneksi untuk memperluas jangkauan sinyal Wifi. Bentuknya yang ringkas dan berdesain elegan, mempermudah penggunanya dalam menentukan titik-titik pancar sinyal Wifi yang dikehendaki.

    google-wifi

    CHROMECAST ULTRA

    Perangkat streaming TV dengan kemampuan menampilkan gambar 4K dan Ultra HD, produk ini juga diklaim telah didukung oleh HDR dan Dolby Vision Support, sehingga kontras warna dan ketajaman semakin terlihat jernih, terutama saat menyaksikan film atau video di layanan streaming seperti Netflix.

    google-pixel-100416-google-chromecast-ultra-1326

    GOOGLE HOME

    Perangkat berbentuk bak vas bunga ini, akan membantu penggunanya dalam memperdengarkan audio atau musik dan juga mengelola perabot pintar di rumah. Untuk urusan audio, Google Home mampu memutar lagu dari layanan musik streaming seperti Spotify, Youtube Music, Pandora dan lainnya, tak ketinggalan juga podcast. Google Home dapat saling terkoneksi satu-sama lain dan memutar konten audio yang sama secara bersamaan.

    screen_shot_2016-05-18_at_1-19-55_pm-0

    Berdasarkan pernyataan CEO Google, Sundar Pichai, rentetan produk perangkat keras ini akan menjadi fokus Google dalam tempo yang cukup lama. Sehingga pastinya akan ada banyak pengembangan yang menarik untuk ditunggu dari Google Assistant, yang berperan sangat menentukan dalam keberhasilan Google di pasar hardware. Jadi apakah Apple perlu khawatir dengan eksistensi hardware Google? Hanya waktu yang dapat menjawab pastinya.

  • DJI Osmo Mobile, Review Lengkap Dalam Bahasa Indonesia

    Di era kekinian para generasi langgas alias millenials punya obsesi tersendiri dengan dunia video online, sampai-sampai ketenaran para artis Youtube melebihi artis Televisi, dan hal ini terjadi tak hanya di Indonesia, melainkan fenomena global. Seolah mencoba menangkap momentum tersebut, DJI, perusahaan drone yang melahirkan DJI Osmo, meluncurkan DJI Osmo Mobile pada bulan September lalu, perangkat kamera handheld dengan stabilizer yang menjadikan smartphone sebagai kamera dan layar menangkap dan merekam gambar.

    Apakah Wearinasians termasuk dalam salah satu dari rombongan yang ingin memulai channel vlog di Youtube? Simak review DJI Osmo Mobile berikut ini.

    DESAIN

    osmo-mobile-1

    DJI Osmo Mobile memiliki desain handheld yang sama persis dengan pendahulunya, sebuah keputusan yang tepat mengingat saat ini DJI Osmo, masih menjadi handheld dengan lekuk desain yang paling nyaman (menurut kami). Pada bagian gimbal ada semacam dua sekrup penyetel, sekrup yang pertama berguna untuk menyesuaikan besaran bukaan pencapit dengan ukuran smartphone yang akan digunakan pada DJI Osmo Mobile dan pada bagian kedua, digunakan untuk menyetel keseimbangan smartphone saat berada di atas DJI Osmo Mobile.

    Desain yang elegan dan terkesan premium memang sudah menjadi nilai jual bawaan DJI Osmo, namun bagi kami, ketidakberadaan mekanisme kunci gimbal pada DJI Osmo Mobile, terkadang membuat kami agak sedikit was-was untuk meletakkannya selain di dalam kotak atau tempat lain yang dapat mencegah gimbal Osmo terputar secara paksa, saat tak sengaja tertekan. Absennya kuncian gimbal juga membuat gimbal bagian atas kerap membentur sisi gimbal bagian bawah, sehingga ada potensi gimbal lecet di kemudian hari.

    FITUR

    Khusus DJI Osmo Mobile, review kali ini tak akan berbicara banyak tentang kualitas kamera, karena kualitasnya sepenuhnya tergantung pada smartphone yang disandingkan dengan DJI Osmo Mobile. Oleh karena itu, mari langsung kita bicarakan fitur pada DJI Osmo Mobile yang paling menjadi favorit kami.

    1. Active Track

      Fitur active track akan sangat membantu pengambilan video, khususnya bagi para vlogger yang kerap mengambil gambar dalam kondisi bergerak atau hanya rekaman seorang diri. Karena dengan Active Track, cukup dengan mengetuk logo ikon target berbentuk kotak, dan menandai objek yang Wearinasians perintahkan untuk diikuti, gimbal Zenmuse M1 akan segera mengikuti pergerakan objek yang dikehendaki. Namun dalam kelincahan gimbal saat mengikuti objek, DJI masih memiliki ruang untuk pengembangan lebih lanjut, dikarenakan apabila objek atau subjek bergerak secara cepat atau latar belakang perekaman, diramaikan dengan objek-objek lainnya, sensor kerap keliru dalam mendeteksi objek atau tak bisa menyusul gerakan subjek yang dikehendaki, tetapi mengingat DJI Osmo Mobile di-desain untuk keperluan vlogging bukan untuk merekam balapan mobil, hal ini kami rasa bisa dimaklumi.

      osmo-mobile-2

    2. TIME-LAPSE

      Time lapse boleh jadi salah satu konten paling menarik untuk dibagikan di Instagram. Dengan menggunakan DJI Osmo Mobile, video time lapse dapat dihasilkan dengan mudah, dan dapat dibagikan langsung, tepat setelah pengambilan gambar. Salah satu fitur time lapse tambahan yang cukup menarik ialah M-timelapse alias Moving timelapse, dimana gimbal akan merekam timelapase sembari bergeser dari satu titik ke titik selanjutnya, yang sudah disetel pengguna.

    BATERAI

    Untuk urusan ketahanan baterai, tidaklah mengherankan bila DJI Osmo Mobile bisa beroperasi lebih lama, mengingat baterai tak perlu mensuplai daya ke area kamera, layaknya seri DJI Osmo pendahulunya, yang dilengkapi kamera bawaan. Oleh karena itu DJI Osmo Mobile dapat beroperasi selama sekitar 3,5 jam atau satu jam lebih singkat dari yang diklaim DJI, yakni 4,5 jam.

    Hal yang sedikit berbeda juga kami temukan saat mengisi daya baterai pada DJI Osmo Mobile, yang menggunakan kabel jack berukuran 3,5mm dengan ujung USB. Metode pengisian ini memperingkas cara mengisi baterai DJI Osmo, sehingga semakin mudah digunakan untuk keperluan mobile.

    ZOOM

    Zoom terdengar sepele, namun bagi pemiliki DJI Osmo reguler, pasti tak akan menyia-nyiakan fitur ini di Osmo Mobile. Cara melakukan zoom-in atau out cukuplah mudah, tekan pelatuk dan gerakkan tuas ke atas atau bawah sesuai keperluan pada saat akan memperbesar atau memperkecil fokus pada suatu objek.

    KOMPATIBEL DENGAN IOS DAN ANDROID, TAPI..

    Untuk perangkat Apple, kebutuhan minimum OS-nya ialah iOS 8.0 dan diatasnya. Kompatibel dengan seri iPhone SE, iPhone 6, iPhone 6 Plus, iPhone 6s, iPhone 6s Plus. 

Satu hal wajib Wearinasians catat, untuk iPhone 5 dan 5s, fitur Active Track tak akan berfungsi, dikarenakan keterbatasan teknologi pada smartphone.

    Sedangkan Android, memerlukan OS setidaknya Android 4.4 dan diatasnya. Kompatibel dengan Samsung S5, Samsung S6, Samsung S7, Samsung NOTE5,Samsung NOTE7,Samsung Galaxy A5, Huawei P9, dan Mi4.

    Ingin melihat lebih lanjut, hasil pengamatan kami? Simak video review Wearinasia atas DJI Osmo Mobile berikut ini;

    Baca spesfikasi detilnya di halaman berikut

1-10 of 169