Clearance Sale , up to 50% off SHOP NOW
THE JOURNAL

Menyeruput Kopi Rempah di Legipait Malang

Menyeruput Kopi Rempah di Legipait Malang

Ketahuilah mengapa segelas kopi rempah di sebuah kedai di jantung kota Malang dibuat dengan sempurna. Salah satu kuncinya: penyajiannya yang sederhana.

Tim Wearinasia percaya kalau mengunjungi kota baru tidaklah lengkap jika belum menyambangi tempat ngopi-nya. Awal Maret 2017, kami berkesempatan mengunjungi Legipait Coffee Shop di jantung kota Malang. Terletak dekat universitas di kota, rumah kopi ini kerap menjadi primadona anak-anak kampus. Mengunjungi di Minggu pagi, kami menemui kisaran sepuluh mahasiswa, jauh dari kata semrawut.

DSCF1684

Pohan rindang nan sejuk yang memberi atap di sekitar Legipait

DSCF1668

Interior dan Eksterior Kental Khas Belanda

Posisinya di hoek ("sudut" dalam bahasa Belanda) memudahkan kami untuk menemui coffee shop yang memang terlihat seperti rumah tua zaman Belanda. Bangunannya unik akan suasana kuno, dicirikan oleh pagarnya yang tidak tinggi dan jendelanya yang berukuran besar. Lantai marmernya berornamen Belanda. Menurut Andrew Gunawan, salah seorang anggota Wearinasia.com, lantai rumah kopi seolah mengingatkan akan rumah kakek maupun nenek Anda. Selain itu, terlihat banyak ornamen yang ditempel di dinding seakan menandakan tempat ini memang sering dijadikan basecamp komunitas-komunitas lokal.

Berasal dari bahasa Jawa, "legitpait" berarti "manis pahit" yang melambangkan rasa kopi. Kami memutuskan untuk singgah sebelum mengambil drone di Balaikota Malang. Kami merasa nyaman sejak detik pertama kami duduk. Ruangan ini hanya dipadati lima meja dan tempat duduk sofa. Suasana yang sepi membuat kami seperti sedang di rumah saja.

Kami akui kami datang kemari untuk sarapan. Untuk memulai hari, kami memilih kopi rempah khas Malang. Kopi merupakan racikan pilihan kota. Yang menarik, kopi rempah ditaburi dedak kopi yang adalah hybrid antara kayu manis dan rempah-rempah lainnya. Dedak pun turun dan kemudian larut dalam sepuluh menit agar siapa saja yang memesan kopi dapat berbincang sejenak. Menyeruput kopi harus perlahan. Bagi Andrew, ini kesempatan unik, mengingat orang kota terutama yang meluangkan waktu di rumah kopi asal Seattle berinisial SC (baiklah, kami tahu Anda sudah memahami maksud kami), biasa menyesap kopinya cepat-cepat. Andrew meminta kepada pelayan untuk menyaring kopinya, walau ia kemudian melihat ada pelanggan yang langsung meminumnya. Ia merasa ia tidak terbiasa karena memilih menyaring dan bukan menunggu kopinya larut. Andrew berpendapat, kopi rempah adalah "snack rakyat."

DSCF1675

Kopi Rempah, yang Memiliki Aroma Kayu Manis yang Menusuk

DSCF1676

Kami Meminta Penjaga Kedai Menyaring Dedak Pekat di Atas Kopi

Makanannya pun lezat. Waffle-nya layaknya waffle pada umumnya. Cokelatnya dibuat sendiri. Yang berkesan justru tempenya. Tebal dan enak, tidak seperti tempe-tempe goreng kebanyakan. Seporsi tempe dihargai Rp15.000.

Menghabiskan satu jam di Legipait tidak terasa, serasa tidak ingin "cabut". Foto-foto yang berhasil tersimpan di kamera akan mengingatkan kami akan nyamannya rumah baru kami di Malang.

DSCF1672

Tampak Dalam Kedai yang Sangat Mengundang Untuk Bersantai

Leave A Comment

    Kemudahan Berbelanja

    Freeshipping

    Gratis ongkos kirim untuk nilai transaksi lebih dari Rp 500.000,00 - Berlaku untuk daerah Jabodetabek

    Cicilan 0%

    Kemudahan melakukan transaksi dengan cicilan 0% dari berbagai macam bank dan perusahan finansial lainnya

    100K Voucher

    Dapatkan potongan sejumlah Rp 100.000,00 untuk transaksi pertama, dengan daftar menjadi member kami.