Clearance Sale , up to 50% off SHOP NOW
THE JOURNAL

Menikmati Dentuman Musik Dibawah Selimut Gas Beracun

Menikmati Dentuman Musik Dibawah Selimut Gas Beracun
  • SHARE
THE JOURNAL

Menikmati Dentuman Musik Dibawah Selimut Gas Beracun

  • SHARE

Words & Photo by : | March 14, 2017

Kawah Ijen, atau yang dikenal secara internasional sebagai Ijen Crater memiliki daya tarik yang tidak dimiliki tempat lain di muka bumi, yakni blue fire alias api biru. Namun untuk mengunjunginya bukanlah perkara mudah dan tentunya diisi dengan beragam rasa hati-hati dan stamina yang terkuras habis. Kami memulai perjalanan jam PK12:30WIB dan memerlukan waktu sampai 6 jam untuk mencapai puncak kawah, dan sekitar 20 menit untuk menuruni kawah.

Saat kami menuruni kawah, angin terasa sangat kencang dan udara sarat akan racun yang dihasilkan oleh gas CO2 dan H2EF, sehingga kami kerap kali harus mengenakan masker untuk mencegah masuknya gas beracun ke saluran pernapasan. Namun "teror" gas beracun tidak membuat gentar para pelancong yang juga ikut mengeksplorasi kawah yang dipenuhi oleh lalu-lalang para penambang, bahkan para wisatawan asing tidak ragu untuk terus turun ke bagian terbawah kawah di saat para penjaga wisata sudah mengisyaratkan adanya potensi ekskalasi gas beracun ke permukaan.

DJI_0054_CLIPCHAMP_keep

Penampakan hembusan gas beracun di sekitar Kawah Ijen

Melihat ketenangan yang ditunjukkan para turis asing tersebut, kami memberanikan diri untuk lebih menikmati Ijen sembari mendengarkan beberapa dentuman musik lewat speaker portable, Marshall Stockwell yang saya bawa dari kantor. Jujur, keputusan saya untuk membawa speaker ini sempat saya sesali selagi mendaki karena membawa barang seberat 1,2KG terasa memikul barang seberat 10KG, bila permukaan jalan yang dilewati sifatnya terus menanjak. Namun "siksaan" tersebut mulai terbayar, saat saya dan teman seperjalanan mampu menikmati alunan musik "Something Just Like This" dari The Chainsmokers, yang bass dan treble-nya saya perbesar untuk sedikit mengindahkan suara dari penjaga yang kerap meneriakkan kedatangan sang gas beracun.

DSCF1344-min compress

Tidak lama semenjak foto ini diambil, gas beracun semakin mengarah ke arah kami

Walaupun terkesan berbahaya dan sedikit ribet, karena harus membawa sebuah speaker portable, tapi rasanya keindahan alam Ijen yang diiringi dentuman musik bukanlah momen yang tergantikan bagi saya pribadi, sampai saat ini. Dan berbicara tingkat keribetan, sebenarnya Stockwell cukup simpel dan mudah untuk dioperasikan, cukup ketuk tombol Bluetooth di bagian atas perangkat dan nyalakan bluetooth pada smartphone dan musik siap diperdengarkan.

top

Image by Slashgear.com

Jadi kesimpulan yang bisa saya pelajari dari bersantai di tengah keindahan berbalut bahaya ini ialah "Terkadang tempat paling berbahaya di dunia adalah tempat terindah yang mungkin belum pernah kita duga."

Kawah Ijen, atau yang dikenal secara internasional sebagai Ijen Crater memiliki daya tarik yang tidak dimiliki tempat lain di muka bumi, yakni blue fire alias api biru. Namun untuk mengunjunginya bukanlah perkara mudah dan tentunya diisi dengan beragam rasa hati-hati dan stamina yang terkuras habis. Kami memulai perjalanan jam PK12:30WIB dan memerlukan waktu sampai 6 jam untuk mencapai puncak kawah, dan sekitar 20 menit untuk menuruni kawah.

Saat kami menuruni kawah, angin terasa sangat kencang dan udara sarat akan racun yang dihasilkan oleh gas CO2 dan H2EF, sehingga kami kerap kali harus mengenakan masker untuk mencegah masuknya gas beracun ke saluran pernapasan. Namun "teror" gas beracun tidak membuat gentar para pelancong yang juga ikut mengeksplorasi kawah yang dipenuhi oleh lalu-lalang para penambang, bahkan para wisatawan asing tidak ragu untuk terus turun ke bagian terbawah kawah di saat para penjaga wisata sudah mengisyaratkan adanya potensi ekskalasi gas beracun ke permukaan.

DJI_0054_CLIPCHAMP_keep

Penampakan hembusan gas beracun di sekitar Kawah Ijen

Melihat ketenangan yang ditunjukkan para turis asing tersebut, kami memberanikan diri untuk lebih menikmati Ijen sembari mendengarkan beberapa dentuman musik lewat speaker portable, Marshall Stockwell yang saya bawa dari kantor. Jujur, keputusan saya untuk membawa speaker ini sempat saya sesali selagi mendaki karena membawa barang seberat 1,2KG terasa memikul barang seberat 10KG, bila permukaan jalan yang dilewati sifatnya terus menanjak. Namun "siksaan" tersebut mulai terbayar, saat saya dan teman seperjalanan mampu menikmati alunan musik "Something Just Like This" dari The Chainsmokers, yang bass dan treble-nya saya perbesar untuk sedikit mengindahkan suara dari penjaga yang kerap meneriakkan kedatangan sang gas beracun.

DSCF1344-min compress

Tidak lama semenjak foto ini diambil, gas beracun semakin mengarah ke arah kami

Walaupun terkesan berbahaya dan sedikit ribet, karena harus membawa sebuah speaker portable, tapi rasanya keindahan alam Ijen yang diiringi dentuman musik bukanlah momen yang tergantikan bagi saya pribadi, sampai saat ini. Dan berbicara tingkat keribetan, sebenarnya Stockwell cukup simpel dan mudah untuk dioperasikan, cukup ketuk tombol Bluetooth di bagian atas perangkat dan nyalakan bluetooth pada smartphone dan musik siap diperdengarkan.

top

Image by Slashgear.com

Jadi kesimpulan yang bisa saya pelajari dari bersantai di tengah keindahan berbalut bahaya ini ialah "Terkadang tempat paling berbahaya di dunia adalah tempat terindah yang mungkin belum pernah kita duga."

  • SHARE ON
Leave A Comment

    Kemudahan Berbelanja

    Freeshipping

    Gratis ongkos kirim untuk nilai transaksi lebih dari Rp 500.000,00 - Berlaku untuk daerah Jabodetabek

    Cicilan 0%

    Kemudahan melakukan transaksi dengan cicilan 0% dari berbagai macam bank dan perusahan finansial lainnya

    100K Voucher

    Dapatkan potongan sejumlah Rp 100.000,00 untuk transaksi pertama, dengan daftar menjadi member kami.