DJI

  • Harga & Spesifikasi DJI Inspire 2: Evolusi DJI Inspire Untuk Dunia Sinematografi

    ulasan-dji-inspire-2

    DJI Inspire 1 yang telah diperkenalkan pada tahun 2014 dan 2015 (untuk Inspire 1 Pro) lalu, telah menjadi acuan dunia sinematografi dikarenakan fungsi gimbalnya yang detachable alias bisa dicabut pasang. Pada jam 3 subuh Rabu WIB, bersamaan dengan perilisan DJI Phantom 4 Pro, DJI Inspire 2 resmi dipamerkan dan diperagakan dengan berlatarkan adegan tembak-menembak ala film Hollywood. Apa kira-kira yang membuat DJI Inspire 2 menjadi varian yang menarik, khususnya bagi para sineas sinematografi profesional? Berikut adalah spesifikasi yang ditonjolkan DJI beberapa jam lalu.

    KAMERA DJI INSPIRE 2 

    Di Wearinasia, kami sering menjelaskan pada konsumen, bahwa pengembangan utama untuk lini produk DJI Inspire, selalu mengedepankan pada performa visual. Melebihi pendahulunya DJI Inspire 1 V2.0 dan DJI Inspire 1 Pro/Raw yang menggunakan Zenmuse X3, X5, dan X5R, gennerasi terbaru Inspire hadir dengan dua pilihan kamera yakni Zenmuse X4S atau Zenmuse X5S. Sesuai dengan tekad DJI untuk menyasar pasar pembuat film profesional, untuk urusan kamera DJI menggunakan perangkat lunak CineCore 2.0 yang mampu menangkap 5.2K pada 4.2Gbps bitrate, kapasitas yang super tinggi ini membuat Inspire dilengkapi SSD onboard.

    Sensor DJI Inspire 2 berlabel 4/3 dan mendukung 10 jenis lensa berbeda, termasuk lensa zoom. Untuk urusan paska produksi, DJI memanjakan sineas perfiman dengan format kompresi CinemaDNG dan Apple ProRes. Dan untuk para fotografer yang sangat picky dalam menyunting, dapat menggunakan format DNG RAW yang dapat menangkap visual 30-megapixel still images. Di sisi lain bagi para profesional di industri TV dapat menikmati mode broadcast pada 1080i 50 dan 720p 60.

    Tidak hanya mampu berotasi sampai 360 derajat, DJI Inspire 2 juga memiliki kamera kedua, berjenis FPV dengan 2-axis yang memungkinkan pilot drone untuk melihat arah pergerakan drone, ketika kamera utama sedang fokus mengarah mengambil objek yang ditargetkan.

    BATERAI DAN DURASI TERBANG DJI INSPIRE 2 

    Baterai DJI Inspire 2 datang dengan desain dual dan menempel langsung dengan sistem self-heating. Pengembangan ini memberikan kemampuan bagi DJI Inspire 2 untuk menjaga temperatur saat beroperasi di suhu ekstrim dan durasi terbang juga melonjak dari 18 menit ke 25 menit.

    KECEPATAN DAN TINGGI TERBANG DJI INSPIRE 2 

    Untuk urusan kecepatan, DJI Inspire 2 dapat melesat sampai 107KM/JAM dari versi DJI Inspire 1 pendahulunya yang hanya mampu dipacu sampai kecepatan 80KM/JAM. Pengembangan ini merupakan hasil pengembangan materi magnesium-aluminium yang menjadi bahan utama pembuatan DJI Inspire 2. Inspire DJI Inspire 2 dapat terbang tinggi sampai 5KM dari permukaan laut.

    SENSOR DAN KEMAMPUAN TERBANG OTONOM DJI INSPIRE 2 

    Serupa dengan DJI Mavic Pro dan DJI Phantom 4 Pro didukung oleh beragam sensor, salah satu pengembangan yang paling baru ialah, sensor pada bagian atas body DJI Inspire 2, yang membuat DJI Inspire 2 mampu bernavigasi ke zona beratap yang kerap menghadang sinyal GPS. Fitur otonom ActiveTrack yang selama berapa bulan belakangan menjadi hak istimewa pemilik DJI Phantom 4, sekarang juga muncul di DJI Inspire 2 dengan dua pilihan mode, yakni Profile, dimana drone akan mengikuti objek secara horizontal dan Spotlight, drone akan menyoroti objek dari atas. Saat mengoperasikan fitur otonom seperti ini, Wearinasians akan sangat dibantu dengan teknologi ObstacleAvoidance yang memampukan Inspire untuk menghindar atau behenti apabila ada rintangan yang tidak dapat dilewati.

    HARGA DJI INSPIRE 2 

    Berdasarkan informasi yang diunggah di situs resmi DJI.com, untuk mendapatkan DJI Inspire 2 berwarna hitam ini, Wearinasians harus siap merogoh kocek sedalam US$2.999 alias Rp40jutaan. Tentunya dengan label harga selangit seperti ini, pangsa pasar DJI Inspire 2 akan spesfifik menyasar korporasi dan para pelaku film profesional.

    Bagaimana pendapat Wearinasians? Terutama pengguna DJI Inspire 1, apakah fitur dan segudang spesifikasi DJI Inspire 2 di atas, cukup mampu merayu kalian untuk memperbarui drone kalian?

  • Tanding Spesifikasi: DJI Mavic Pro, GoPro Karma, dan Yuneec Breeze

    Selang beberapa hari, setelah Nick Woodman, CEO dari GoPro merilis GoPro Karma, DJI langsung "membalasnya" dengan merilis DJI Mavic Pro. Tak ayal, kedua produk tersebut secara sengit dibandingkan oleh para netizen. Tapi tahukah Wearinasians, kalau pabrikan drone Yuneec juga ikut meramaikan persaingan mini drone dengan menelurkan Breeze? Hmm nampaknya sengitnya pertarunagan Mavic dan Karma, sedikit menenggelamkan Breeze.

    Sekedar untuk informasi, perbandingan antara DJI Mavic Pro, GoPro Karma, dan Yuneec Breeze pada artikel ini, berdasarkan kurasi dari berbagai sumber yang telah yang melakukan review dan hand-on review. Jadi untuk ulasan detil dari Wearinasia sendiri, akan segera dirilis, mulai bulan November, setelah tim Wearinasia menerima salah satu atau dua dari mini-drone yang akan kita ulas dalam artikel ini.

    BERAT

    Bila mulai membicarakan spesifikasi, ada baiknya kita memulai dengan membahas perbedaaan berat antar mini drone. Menurut PetaPixel.com, DJI Mavic Pro memiliki berat 734gram, Karma 1006gram, dan situs resmi Yuneec menyebutkan Breeze memiliki berat 385gram. Jadi untuk urusan berat, Breeze boleh jadi mini drone yang paling enteng.

    DIMENSI

    Salah satu aspek menarik dari mini drone, ialah fungsinya yang dapat dilipat alias foldable (kecuali Yuneec Breeze). DJI Mavic Pro memiliki dimensi 83x83x198mm saat dilipat dan Karma tergolong bongsor pada ukuran 89.9x224x356.2mm. Dan Yuneec Breeze pada ukuran 196x196x65mm.

    dimensi-gopro-and-dji

    Image by Techno Buffalo Image by Techno Buffalo

    KECEPATAN DAN RADIUS TERBANG

    Untuk kecepatan, Mavic Pro merajai kategori mini drone dengan kemampuan melesat secepat 65KM/jam pada mode sport, sedangkan Karma 56.3KM/jam, sedangkan kecepatan Breeze hanya mampu melaju sampai 3.6KM/jam, terlampau jauh untuk dibandingkan dengan Mavic dan Karma. DJI Mavic Pro juga jadi drone dengan kemampuang radius terbang terjauh, yakni 7KM, sedangkan GoPro Karma hanya 3KM, dan Breeze 80M.

    KAMERA

    Secara teknis baik Mavic dan Karma menggunakan sensor 1/2.3 inci dan 12-megapizel CMOS. Salah satu kekurangan Mavic menurut Casey Neistat dan Digital Rev TV ialah kelebaran foto yang kurang bila dibandingkan dengan DJI Phantom 4 dan GoPro Karma. Bagaimana dengan Yuneec Breeze? Mengingat langkanya ulasan terkait drone mungil berwarna putih ini, kami hanya mengetahui klaim perusahaan yang menginfokan bilamana Breeze dilengkapi dengan sensor 1/3.06 dan 13-megapixel CMOS. Tapi hal ini terasa sulit untuk kami cerna, mengingat drone ini dipredikatkan sebagai drone-selfie alias drone mainan.

    Simak perbandingan hasil kamera dari Mavic dan GoPro Hero 5, kamera yang kompatibel dengan Karma, di video berikut ini.

    GIMBAL ALIAS STABILIZER

    Baik DJI Mavic atau GoPro Karma sama-sama mengandalkan 3 axis-gimbal. Untuk GoPro Karma jangkauan gerak atau range of motion nya berada di kisaran -90° ke 0° ke arah atas dan bawah, sedangkan Mavic diklaim mampu menjangkau -90° ke +30° dan menurut PetaPixel.com dapat bergeser, sesuatu yang akan kita buktikan bersama saat di hands on review nanti. Breeze tak masuk dalam hitungan karena kamera dibenamkan di dalam wahana.

    MODE TERBANG PINTAR, OTOMATIS DAN LAIN LAIN

    "Dosa" terbesar GoPro ialah tidak menyaingi DJI dengan fitur follow mode dan collision avoidance sensor. Menurut pengalaman kami, pengguna drone di Indonesia khususnya, memberikan apresiasi sangat positif terhadap DJI Phantom 4 untuk dua mode fitur diatas, oleh karena itu saat sebagian dari calon konsumen mengetahui bilamana DJI Mavic dilengkapi dengan sensor dan fitur serupa dengan DJI Phantom 4, tak perlu waktu lama bagi mereka untuk memutuskan memilih DJI Mavic ketimbang GoPro Karma, apalagi Yuneec Breeze. Tapi Pablo Lema, pimpinan divisi produk aerial GoPro menyebutkan bahwa timnya sedang mengerjakan sensor serupa dengan DJI, yang memungkinkan produk drone GoPro di kemudian hari, juga sama cerdasnya dengan produk DJI, jadi selalu ada harapan bagi para pecinta GoPro :)

    REMOT KONTROL

    DJI Mavic Pro memiliki remote dengan semacam pencapit smartphone di bagian bawah, namun Mavic dapat dioperasikan tanpa atau dengan smartphone. Pada bagian atas layar remot, ada layar LED yang menginfokan pilot dengan data-data penting saat penerbangan. Sedangkan GoPro Karma, mengadopsi konsep remot konsol video game dengan layar touchscreen buka-tutup beresolusi 720p dengan kelebaran 12,7CM. Dan Breeze hanya bisa digunakan dengan aplikasi pada smartphone saja.

    dji_mavik_pro_modes_active_track_mode Image by PCAuthority.com

    HARGA & KETERSEDIAAN

    Untuk urusan harga pasti, sampai artikel ini disusun, hanya DJI Mavic Pro yang memiliki harga pasti, dimana ada dua paket yang ditawarkan, yakni DJI Mavic Pro dibanderol Rp14.990.000.00 dan DJI Mavic Pro Combo (wahana yang sama namun sepaket dengan tas, baterai ekstra, dan lain-lain) Rp19.200.000.00. Untuk sementara waktu GoPro Karma dikabarkan akan difokuskan untuk pasar Amerika Serikat dan Eropa, dari pihak kami di Wearinasia.com, belum menerima sinyal-sinyal atau kejelasan dari pihak lokal terkait berita ini, sepengetahuan kami dari situs GoPro, harga pre-sale GoPro Karma dibanderol pada angka Rp11.186.000.00 TAPI belum termasuk kamera GoPro yang harganya dimulai dari Rp5.400.000.00 dan dijadwalkan dirilis per-tanggal 23 Oktober 2016 waktu Amerika Serikat.

    Jadi mini drone mana yang akan jadi pilihan Wearinasians? Dan apa alasannya? Silahkan respon di kolom komentar.

  • Hobi Baru DJI, Mensponsori "Perang" Robot Di Dunia Nyata

    robomasters-arena Image by The Verge

    "Menurut saya dengan menggabungkan engineering (keinsinyuran) dan hiburan, akan banyak pelajaran yang bisa dikontribusikan kepada dunia ini, ketimbang ketika seseorang menjadi atlit, yang hanya akan menghibur namun kurang berkontribusi untuk aspek lainnya." Ucap Frank Wang Tao, CEO dari Dajian Innovation Technology alias DJI, perusahaan penghasil drone terbesar di dunia. Kira-kira itulah dasar pemikiran dari DJI dalam mensponsori Robomasters, ajang tanding robot canggih beregu yang diselenggarakan secara besar-besaran di Tiongkok.

    Image by The Verge Image by The Verge

    Turnamen tembak-menembak antar robot, yang diikuti ribuan mahasiswa engineering ini, ber-format tim, yang tiap timnya beranggotakan lima operator robot. Masing-masing anggota tim mengontrol jenis robot yang berbeda sesuai dengan fungsinya, misalnya jenis Infantry, semacam panser dengan kanon yang menembakkan bola-bola karet sebagai peluru, Hero, umumnya di-desain khusus dengan kemampuan menembakkan bola golf, yang mana untuk mengambil bola golf, robot yang didesain secara mekanis harus mampu melewati rintangan yang sengaja di desain penyelenggara, Drone juga punya peran yang mirip dengan Hero, namun memiliki keuntungan karena setelah mengambil bola golf, bisa langsung digunakan untuk memborbardir Robot Base lawan, yang menjadi penentu kemenangan salah satu tim, dan yang terakhir Station, berperan sebagai pemasok amunisi bagi rekan setim.

    Layaknya game DOTA atau game Multiplayer Online Battle Arena (MOBA) lainnya, di area-area tertentu robot dapat berhenti untuk mengisi health atau mendapatkan power-up. Sehingga peserta dituntut tak sekedar dapat menciptakan robot dengan teknologi dan mekanis yang efisien, namun juga dituntut untuk memiliki strategi "perang" yang solid.

    Robot Hero, melewati rintangan untuk mengambil bola golf Robot Hero, melewati rintangan untuk mengambil bola golf
    First Person View First Person View

    Inti pengoperasian dari robot-robot ini terdiri dari sistem setir, bagi robot beroda untuk melakukan navigasi, sistem persenjataan, yang mengatur meriam tembak dan laser pengeker, dan sistem charging, yang terdiri sensor pendeteksi kerusakan (saat robot tertembak), sensor kecepatan, dan kamera First Person View (FPV), yang akan menyuguhkan perspektif orang pertama ke komputer peserta.

    Kecanggihan yang paling mengesankan pada kompetisi robot ini terletak pada penggunaan teknologi “Computer Vision” yang memampukan robot Base mampu merespon tembakan dari robot musuh, dengan menembak balik dan menghindar. Ini bukan teknologi sembarangan, karena “Computer Vision” juga digunakan pada mobil-mobil otonom guna memahami objek dan meresponnya dengan aksi tertentu, mulai dari berhenti saat lampu merah sampai memberikan jalan bagi pejalan kaki yang sedang menyeberang.

    Compute Vision, memandu robot untuk menembak papan acak dengan tepat Compute Vision, memandu robot untuk menembak papan acak dengan tepat

    Robomasters menjadi ajang yang saling menguntungkan, baik bagi para mahasiswa engineering maupun sang penyelenggara, DJI. Di satu sisi mahasiswa ingin memperagakan talentanya demi mendapatkan posisi prestisius di DJI, dan di sisi lain, DJI memerlukan inspirasi atau bahkan perlu mengakuisisi ide-ide terobosan yang dikeluarkan peserta saat berkompetisi. Karena bagaimanapun juga, DJI memiliki ambisi untuk tak sekedar menjadi perusahaan penghasil drone kamera, melainkan menjadi perusahaan robotik terbesar di dunia dan merambah ke industri-industri seperti agrikultur atau bahkan mobil otonom, dan untuk melakukan itu diperlukan talenta tim teknis yang kuat, agar dapat beradu saing dengan perusahaan-perusahaan macam Google dan raksasa teknologi lainnya.

    Simak pertandingan final Robomasters 2016? Berikut ini

     

     

  • DJI Osmo Mobile, Review Lengkap Dalam Bahasa Indonesia

    Di era kekinian para generasi langgas alias millenials punya obsesi tersendiri dengan dunia video online, sampai-sampai ketenaran para artis Youtube melebihi artis Televisi, dan hal ini terjadi tak hanya di Indonesia, melainkan fenomena global. Seolah mencoba menangkap momentum tersebut, DJI, perusahaan drone yang melahirkan DJI Osmo, meluncurkan DJI Osmo Mobile pada bulan September lalu, perangkat kamera handheld dengan stabilizer yang menjadikan smartphone sebagai kamera dan layar menangkap dan merekam gambar.

    Apakah Wearinasians termasuk dalam salah satu dari rombongan yang ingin memulai channel vlog di Youtube? Simak review DJI Osmo Mobile berikut ini.

    DESAIN

    osmo-mobile-1

    DJI Osmo Mobile memiliki desain handheld yang sama persis dengan pendahulunya, sebuah keputusan yang tepat mengingat saat ini DJI Osmo, masih menjadi handheld dengan lekuk desain yang paling nyaman (menurut kami). Pada bagian gimbal ada semacam dua sekrup penyetel, sekrup yang pertama berguna untuk menyesuaikan besaran bukaan pencapit dengan ukuran smartphone yang akan digunakan pada DJI Osmo Mobile dan pada bagian kedua, digunakan untuk menyetel keseimbangan smartphone saat berada di atas DJI Osmo Mobile.

    Desain yang elegan dan terkesan premium memang sudah menjadi nilai jual bawaan DJI Osmo, namun bagi kami, ketidakberadaan mekanisme kunci gimbal pada DJI Osmo Mobile, terkadang membuat kami agak sedikit was-was untuk meletakkannya selain di dalam kotak atau tempat lain yang dapat mencegah gimbal Osmo terputar secara paksa, saat tak sengaja tertekan. Absennya kuncian gimbal juga membuat gimbal bagian atas kerap membentur sisi gimbal bagian bawah, sehingga ada potensi gimbal lecet di kemudian hari.

    FITUR

    Khusus DJI Osmo Mobile, review kali ini tak akan berbicara banyak tentang kualitas kamera, karena kualitasnya sepenuhnya tergantung pada smartphone yang disandingkan dengan DJI Osmo Mobile. Oleh karena itu, mari langsung kita bicarakan fitur pada DJI Osmo Mobile yang paling menjadi favorit kami.

    1. Active Track

      Fitur active track akan sangat membantu pengambilan video, khususnya bagi para vlogger yang kerap mengambil gambar dalam kondisi bergerak atau hanya rekaman seorang diri. Karena dengan Active Track, cukup dengan mengetuk logo ikon target berbentuk kotak, dan menandai objek yang Wearinasians perintahkan untuk diikuti, gimbal Zenmuse M1 akan segera mengikuti pergerakan objek yang dikehendaki. Namun dalam kelincahan gimbal saat mengikuti objek, DJI masih memiliki ruang untuk pengembangan lebih lanjut, dikarenakan apabila objek atau subjek bergerak secara cepat atau latar belakang perekaman, diramaikan dengan objek-objek lainnya, sensor kerap keliru dalam mendeteksi objek atau tak bisa menyusul gerakan subjek yang dikehendaki, tetapi mengingat DJI Osmo Mobile di-desain untuk keperluan vlogging bukan untuk merekam balapan mobil, hal ini kami rasa bisa dimaklumi.

      osmo-mobile-2

    2. TIME-LAPSE

      Time lapse boleh jadi salah satu konten paling menarik untuk dibagikan di Instagram. Dengan menggunakan DJI Osmo Mobile, video time lapse dapat dihasilkan dengan mudah, dan dapat dibagikan langsung, tepat setelah pengambilan gambar. Salah satu fitur time lapse tambahan yang cukup menarik ialah M-timelapse alias Moving timelapse, dimana gimbal akan merekam timelapase sembari bergeser dari satu titik ke titik selanjutnya, yang sudah disetel pengguna.

    BATERAI

    Untuk urusan ketahanan baterai, tidaklah mengherankan bila DJI Osmo Mobile bisa beroperasi lebih lama, mengingat baterai tak perlu mensuplai daya ke area kamera, layaknya seri DJI Osmo pendahulunya, yang dilengkapi kamera bawaan. Oleh karena itu DJI Osmo Mobile dapat beroperasi selama sekitar 3,5 jam atau satu jam lebih singkat dari yang diklaim DJI, yakni 4,5 jam.

    Hal yang sedikit berbeda juga kami temukan saat mengisi daya baterai pada DJI Osmo Mobile, yang menggunakan kabel jack berukuran 3,5mm dengan ujung USB. Metode pengisian ini memperingkas cara mengisi baterai DJI Osmo, sehingga semakin mudah digunakan untuk keperluan mobile.

    ZOOM

    Zoom terdengar sepele, namun bagi pemiliki DJI Osmo reguler, pasti tak akan menyia-nyiakan fitur ini di Osmo Mobile. Cara melakukan zoom-in atau out cukuplah mudah, tekan pelatuk dan gerakkan tuas ke atas atau bawah sesuai keperluan pada saat akan memperbesar atau memperkecil fokus pada suatu objek.

    KOMPATIBEL DENGAN IOS DAN ANDROID, TAPI..

    Untuk perangkat Apple, kebutuhan minimum OS-nya ialah iOS 8.0 dan diatasnya. Kompatibel dengan seri iPhone SE, iPhone 6, iPhone 6 Plus, iPhone 6s, iPhone 6s Plus. 

Satu hal wajib Wearinasians catat, untuk iPhone 5 dan 5s, fitur Active Track tak akan berfungsi, dikarenakan keterbatasan teknologi pada smartphone.

    Sedangkan Android, memerlukan OS setidaknya Android 4.4 dan diatasnya. Kompatibel dengan Samsung S5, Samsung S6, Samsung S7, Samsung NOTE5,Samsung NOTE7,Samsung Galaxy A5, Huawei P9, dan Mi4.

    Ingin melihat lebih lanjut, hasil pengamatan kami? Simak video review Wearinasia atas DJI Osmo Mobile berikut ini;

    Baca spesfikasi detilnya di halaman berikut

  • Anda Sekarang Bisa Streaming Facebook Live Video Dengan Aplikasi Baru Dari DJI

    Kabar gembira bagi Anda pengguna drone dari DJI karena baru-baru ini produsen drone ternama asal China ini telah mengupdate aplikasi DJI Go App-nya. Dengan aplikasi baru ini, para pemilik drone DJI dapat langsung mengupload video tangkapan drone mereka langsung ke Facebook tanpa perlu perantara apapun.

    Drone DJI model Inspire drones, Phantom 3 dan Phantom 4 adalah drone yang dapat langsung merasakan manfaat dari update aplikasi DJI Go App ini. Tidak cuma Facebook, aplikasi ini juga memungkinkan penggunanya untuk melakukan live stream ke platform lain seperti Periscope dan Youtube.

    Pembaruan aplikasi ini semakin mengukuhkan posisi DJI sebagai produsen nomor satu untuk pasar drone secara global. Bahkan model terbaru mereka DJI Phantom 4, dinobatkan oleh Mashable sebagai drone terbaik tahun ini. Wajar saja, mengingat berbagai teknologi canggih yang memudahkan pengguna dalam menggunakan DJI Phantom 4 ini.

  • 11 Destinasi Anyar Untuk Menerbangkan Drone

    Bila pasangan Anda mempertanyakan apa manfaat dari membeli sebuah drone bernilai jutaan rupiah, perlihatkan rekaman-rekaman drone berikut ini, semoga bisa membuatnya terkesima dan memberikan lampu hijau kepada Anda untuk membelu drone impian Anda.

    1. Sydney, Opera House

    Drone yang digunakan: DJI Inspire 1

    2. New York City

    Drone yang digunakan: DJI Phantom dengan GoPro

    3. Chicago, Illinois

    4. San Fransisco, California

    5. London

    6. Florence

    7. Dubai, UAE

    8. Budapest, Hungary

    9. Rome, Italy

    10. Venice, Italy

    11. Venice, Italy

  • Indonesia: Unboxing DJI Phantom 4

    Ingin tahu isi DJI Phantom 4? Ini teaser unboxing-nya!

  • DJI Gencar Adopsi Resep Bisnis Apple

    Dalam tempo kurang lebih 12 bulan industri drone untuk konsumen sudah penuh sesak dengan beragam merek. Tak ingin terperangkap pola bisnis perang harga dan menjajakan drone layaknya sebuah komoditas, SZ DJI Technology Co alias DJI menelurkan produk terbarunya pada Maret 2016 lalu. Ini adalah manuver terbaik bagi DJI, mengingat persaingan harga jual sudah semakin tidak ideal.

    dji phantom 3 pro, 3dr robotics 3dr, yuneec typhoon

    Menurut Forbes.com, hadirnya DJI Phantom 4 merupakan penegasan DJI sebagai merek premium, kurang lebih pola bisnisnya mirip dengan cara bisnis Apple yang kerap kali meluncurkan produk baru dalam jeda yang cukup singkat, sehingga keluaran terdahulunya nampak usang. Cetak biru bisnis Apple makin diamalkan oleh DJI dengan peresmian toko fisiknya di Seoul, Korea Selatan dan Tiongkok, Shenzen dan kerjasama antar kedua perusahaan teknologi tersebut semakin akrab, terbukti dari pre-order DJI Phantom 4 hanya bisa dilakukan di situs resmi Apple dan produk-produk DJI juga sudah bisa ditemukan di Apple Store cabang Amerika Serikat.

    dji care

    Selain dari segi distribusi, dalam hal riset dan pengembangan (R&D) DJI juga sama seriusnya dengan Apple. Sampai saat ini ada 1,500 karyawan DJI yang hanya berfokus pada R&D saja. Semua ini dilakukan agar perusahaan kelahiran tahun 2013 ini dapat mengungguli para kompetitornya dari segi fitur dan perangkat lunak, bukan harga. Untuk memastikan misi ini berjalan dengan mulus DJI membuka kantor di Palo Alto berisikan 75 karyawan R&D yang mana banyak diantaranya jebolan Apple dan Tesla. Jadi saat ini DJI memiliki proses manufaktur yang unggul di Shenzen dan kecanggihan perangkat lunak dari pusat teknologi dunia, yakni Silicon Valley.

    APPLECARE

    Dalam hal layanan konsumen, DJI juga "terinspirasi" Apple untuk menawarkan DJI Care, sebuah garansi drone dalam tempo satu tahun atau sederhananya Apple Care untuk drone. Seluruh gerak-gerik ini mendapat komentar dari CEO Yuneec cabang Amerika Serikat, Shan Phillips yang menyebut DJI masih menjadi primadona hanya di tengah kaum penghobi saja dan belum menjadi main stream layaknya kamera aksi, Go-Pro, tetapi rasanya Frank Wang selaku CEO akan mengacuhkan komentar ini mengingat kiblat DJI mengarah ke Apple bukannya Go-Pro.

  • Awalnya Dicela, Sekarang Nilai Perusahaan DJI Capai US$10miliar

    Pada 1 Maret 2016 lalu, DJI merilis tipe DJI Phantom terbaru alias DJI Phantom 4, sebuah drone dengan fitur pengelak rintangan. Popularitas drone keluaran DJI sudah tidak diragukan lagi, terbukti perusahaan berbasis di Shenzen ini melahap 70% pangsa pasar industri drone dunia sehingga tak heran pemodal ventura asal Sillicon Valley berbondong-bondong ingin menyuntik dana ke perusahaan bernilai US$10miliar ini.

    Kesuksesan DJI tidak bisa dibilang instan, perusahaan ini didirikan Frank Wank sejak tahun 2013 dan produk pertamanya DJI Phantom 1 juga tidak langsung merebut perhatian pasar, bahkan para penghobi RC mencela kualitas dan performa drone siap pakai tersebut. Menurut penelusuran MyFirstDrone.com, DJI Phantom 1 memiliki banyak kelemahan, dimulai dari baterai yang hanya bertahan selama 10 menit, GPS yang tak bisa diandalkan, dan hasil rekaman yang kacau dan tidak stabil.

    dji phantom 1

    Menariknya, dalam tempo setengah tahun, DJI langsung "menebus dosanya" dengan merilis DJI Phantom 2 yang mampu terbang selama 20 menit dan kemudahan penggunaan, seperti memasukkan baterai ke dalam wahana drone, dari yang sebelumnya (DJI Phantom 1) mengharuskan pengguna untuk berkutat dengan kabel warna-warni yang sangat kompleks, saking ruwetnya pengguna kadang harus melihat buku manual, hanya untuk memasang baterai. Selain itu gimbal juga dibuat modular, sehingga dapat diganti dengan opsi lain, tergantung prefrensi pengguna.

    Satu lagi perubahan yang krusial terletak pada IOC atau Intelligent Orientation Control, yang memudahkan navigasi pengguna dimana drone mengikuti arah pergerakan tuas pada remot kontrol. Fitur pengestimasi durasi penerbangan ditambahkan sehingga drone akan mengkalkulasi sisa baterai yang diperlukan untuk secara otomatis mendarat di titik awal lepas landas. Seabrek pengembangan ini membuat tahun 2014 menjadi tahunnya DJI, tak sedikit pabrikan drone yang menjiplak fitur-fitur DJI Phantom 2.

    dji phantom 2 vision

    DJI Phantom 2 hadir dalam dua versi, yakni DJI Phantom 2 Vision yang disandingkan dengan kamera 1080P namun tidak ber-gimbal sehingga tak cocok untuk pengambilan video udara. 3 Axis Gimbal baru muncul pada versi lanjutan, DJI Phantom 2 Vision+, namun kamera hasil tangkapannya belum memuaskan bagi beberapa kalangan, bahkan hasil tangkapan GoPro Hero 4 dianggap lebih berkualitas.

    dji-phantom-vision-plus-v3.0-[5]-1389-p

    Pada awal tahun 2015, DJI Phantom 3 terlahir dan disambut meriah oleh para pecinta quadcopter. Bagian dalam DJI Phantom 3 memiliki motherboard yang lebih besar yang menjadi pusat tertanamnya beberapa sistem vital, salah satunya motor speed controllers. Varian yang ditawarkan ke pasar ada dua jenis DJI Phantom Professional yang berkemampuan merekam video 4K dan Advance yang dilekangkapi kamera 1080P.

    Semenjak DJI Phantom 3 dirilis nampaknya DJI berhenti memproduksi drone yang tidak teintegrasi dengan kamera bawaan. Oleh karena itu bagi yang mendambakan drone tanpa kamera bawaan, 3DR Solo atau Hexo+ bisa jadi opsi.

    DJI-Phantom-3-Professional-UK-Store

    dji phantom 3 advance

    Serangkaian kesuksesan telah didapat DJI, namun bila melihat ulasan atau teaser dari DJI Phantom 4 nampaknya DJI masih gencar berinovasi agar tidak dilahap oleh pesaing. Sekedar informasi Yuneec, merupakan salah satu kompetitor DJI yang disokong dana oleh Intel dan diprediksi mampu mendobrak dominasi DJI. Bagaimana tidak? Perusahaan asal Tiongkok ini memiliki teknologi yang mirip dengan DJI namun selalu membanderol harganya jauh di bawah DJI. Jadi apakah DJI akan terus mendominasi pasar drone? Tentu jawabannya ada di tangan Frank Wang dan kawan-kawan, karena di dunia teknologi tidak ada yang abadi. Tak percaya? Tanyakan pada Nokia dan Blackberry :)

  • Drone Terbaru dari DJI Akhirnya Rilis

    Salah satu produsen drone ternama dunia, DJI, telah mengumumkan rilis DJI Phantom 4 yang lebih stabil dan merespon lebih cepat. Secara desain, DJI Phantom 4 tidak terlalu berbeda dibanding pendahulunya. Kemajuan terbesar adalah kemampuan Phantom 4 untuk mengikuti pengguna dan menghindari rintangan.

    Fitur ini diaktifkan oleh pendamping aplikasi iOS / Android namun didukung oleh dua kamera monokrom tertanam pada drone. Kamera ini mempunyai kemampuan untuk merekam objek dengan kualitas 4K dan dengan pandangan sampai 60 derajat (30 derajat untuk setiap kameranya).

    DJI juga sediit mengubah desain dari Phantom 4 ini. Sekarang, drone ini terlihat lebih compact karena penggunaan baterai baru yang dapat bertahan 28 menit sekali pengisian. Penggunaannya juga konon lebih mudah karena adanya fitur TapFly mode. Dengan fitur ini, Anda sebagai operator hanya perlu menentukan lokasi tujuan dan Phantom 4 akan secara otomatis mengambil jarak terpendek ke lokasi yang sudah Anda tentukan.

    Dengan berbagai fitur baru tersebut, Phantom 4 dipatok sedikit lebih mahal dari pendahulunya yaitu sekitar 1.399 dollar.

1-10 of 19