Clearance Sale , up to 50% off SHOP NOW
THE JOURNAL

5 Tip Dalam Memilih Drone

Semarak memiliki drone sedang melanda dunia, tak terkecuali Indonesia. Beragam merek banyak berseliweran di dunia maya atau toko-toko elektronik, namun layaknya membeli mobil, tentunya Wearinasians ingin mengkaji dulu beberapa hal sebelum menjatuhkan pilihan, mengingat setiap merek merepresentasikan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Oleh karena itu, berikut adalah hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih drone, berdasarkan hasil pengamatan kami selama mendistribusikan beragam merek drone.

1. SEMAKIN MURAH DRONE SEMAKIN MUDAH DITERBANGKAN?

Dilansir dari MyFirstDrone.com, tingkat kesulitan mengendalikan drone atau quadcopter (drone dengan jumlah empat baling-baling) sangatlah tinggi, namun berkat kemajuan teknologi sensor dan komputer yang menjadi flying controller dari sebuah drone, navigasi menjadi sangat mudah, bahkan untuk pilot drone dengan jam terbang yang masih sangat baru sekalipun. Oleh karena itu semakin tinggi harga drone, tingkat kemudahan dalam menerbangkannya juga cenderung meningkat. Hal ini dikarenakan produsen drone harus menanamkan berbagai kamera dan sensor agar drone dapat dioperasikan semulus dan semudah mungkin. Berikut kurva temuan MyFirstDrone yang menggambarkan korelasi kemudahan terbang drone dengan harga drone tersebut.

kemudahan

Seri DJI Phantom, Inspire, Yuneec Typhoon, dan 3DR Solo adalah seri drone yang membuktikan temuan di atas (harga yang semakin tinggi berkorelasi dengan kemudahan terbang).

drone murah

Toy Drone, drone tanpa bantuan sensor canggih

2. TIDAK SEMUA DRONE SIAP UNTUK TERBANG

Ada beberapa singkatan dalam industri drone yang patut Wearinasians pahami, yakni:

  • Ready-To-Fly (RTF), merupakan drone dengan kategori yang siap terbang dan lengkap, tepat setelah wahana tersebut keluar dari boks/kemasan. Sehingga TIDAK ada proses merakit-merakit di produk kategori ini, yang Wearinasians perlukan hanyalah mengisi daya baterai, mengkalibrasi, dan mempersiapkan smartphone atau tablet sebagai layar pengoperasian drone. Contoh drone RTF: Seri DJI Phantom, Inspire, Yuneec Typhoon, 3DR Solo, Xiro Explorer tipe V.
  • Bind-To-Fly (BTF), drone dengan kategori ini, tidak datang langsung dengan remote kontrol bawaan, oleh karena itu Wearinasians harus mempersiapkan transmiter yang kompatibel, tak hanya dari kesamaan sinyal tapi juga kemampuan transmiter untuk "berkomunikasi" dengan drone sesuai protokol yang ditentukan produsen. Contoh: drone-drone balap alias FPV.
  • Almost-Ready-To-Fly (ARF), pengertian drone kategori ini sangatlah luas, oleh karena itu pastikan Wearianasians membaca secara teliti, perangkat apa saja yang tergabung dalam paket drone tersebut. Umumnya, drobe berlabel ARF tidak dibarengi transmiter, receiver, bahkan TIDAK memiliki baterai atau kamera. Contoh drone ARF: DJI Spreading Wings S1000
s-1000

Spreading Wings S1000 salah satu drone yang datang tanpa kamera dan kelengkapan lainnya

3. MEMBELI DRONE ADALAH INVESTASI PANJANG

swarm-of-drones-on-the-factory-lane

Bila Wearinasians berekspektasi untuk membeli drone dibawah harga lima juta rupiah, maka paragraf ini bukanlah untuk Anda, karena drone dengan perangkat lunak dan performa yang layak pakai (layak = memiliki kestabilan dan kejernihan gambar yang mumpuni) saat ini, dibanderol diatas lima juta rupiah.

Sebelum menentukan pilihan, pastikan merek drone yang akan dipilih memiliki aplikasi yang user friendly dan "rajin" melakukan pembaruan firmware. Karena drone era modern sangat bergantung pada kecerdasan perangkat lunak. Ketahui sejak awal, utilitas yang paling Wearinasians perlukan saat mengoperasikan drone, misalnya Wearinasians ingin menghasilkan video dengan beragam bantuan sudut pandang lensa yang berbeda, memilih salah satu dari seri DJI Phantom tentunya bukan pilihan yang paling tepat, mengingat seri DJI Phantom adalah drone dengan kamera yang telah terintegrasi atau fix, berbeda dengan DJI Inspire 1 yang memiliki landasan gimbal yang mampu mengamodir beberapa lensa alternatif, yang tentunya dalam ilustrasi ini, lebih sesuai dengan tujuan.

4. MEMPERHATIKAN TEMPAT PEMBELIAN

Drone mulai semakin mudah ditemukan di beberapa gerai di mall atau via toko online. Metode pembelian baik online atau offline pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, namun hal yang terpenting yang perlu diperhatikan adalah hal berikut:

  • Keabsahan produk: Membeli produk black market atau hand carry tentunya sangat menggiurkan dari segi harga, namun satu hal yang perlu pertimbangkan ialah absennya layanan purna-jual dan hak Wearinasians untuk melakukan klaim bila terjadi cacat produksi pada produk terkait.
  • Service Center: Sampai saat ini, di Indonesia belum ada representatif langsung dari pemegang merek drone yang membuka gerai layanan servis. Oleh karena itu, tempat atau toko yang menjadi penjual drone Wearinasians, akan sangat menentukan pengalaman purna jual yang akan dialami.

5. SERTIFIKASI DRONE?

Sertifikasi merupakan salah satu hal yang kerap dipertanyakan konsumen atau calon konsumen kami di Wearinasia.com. Berdasarkan informasi terkini, belum ada kebijakan dari badan pemerintah yang mewajibkan individu atau pilot drone untuk meregistrasi atau mengambil pelatihan bersertifikasi. Saat ini beberapa sertifikasi yang berseliweran di Indonesia, sifatnya tidak mandatori atau diwajibkan lembaga pemerintah manapun, namun cukup baik untuk Wearinasians coba untuk sekedar mengukur kepiawaiaan dalam menerbangkan drone. Jadi keputusan untuk mengambil sertifikasi atau tidak, diserahkan sepenuhnya pada pemilik drone (setidaknya sampai saat artikel ini ditulis).

Perlu bantuan lebih lanjut dalam menentukan drone pilihan Wearinasians? Silahkan hubungi Customer Service Wearinasia di: 021-54200-599, (WA) 0815-8660-2152.

Semarak memiliki drone sedang melanda dunia, tak terkecuali Indonesia. Beragam merek banyak berseliweran di dunia maya atau toko-toko elektronik, namun layaknya membeli mobil, tentunya Wearinasians ingin mengkaji dulu beberapa hal sebelum menjatuhkan pilihan, mengingat setiap merek merepresentasikan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Oleh karena itu, berikut adalah hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih drone, berdasarkan hasil pengamatan kami selama mendistribusikan beragam merek drone.

1. SEMAKIN MURAH DRONE SEMAKIN MUDAH DITERBANGKAN?

Dilansir dari MyFirstDrone.com, tingkat kesulitan mengendalikan drone atau quadcopter (drone dengan jumlah empat baling-baling) sangatlah tinggi, namun berkat kemajuan teknologi sensor dan komputer yang menjadi flying controller dari sebuah drone, navigasi menjadi sangat mudah, bahkan untuk pilot drone dengan jam terbang yang masih sangat baru sekalipun. Oleh karena itu semakin tinggi harga drone, tingkat kemudahan dalam menerbangkannya juga cenderung meningkat. Hal ini dikarenakan produsen drone harus menanamkan berbagai kamera dan sensor agar drone dapat dioperasikan semulus dan semudah mungkin. Berikut kurva temuan MyFirstDrone yang menggambarkan korelasi kemudahan terbang drone dengan harga drone tersebut.

kemudahan

Seri DJI Phantom, Inspire, Yuneec Typhoon, dan 3DR Solo adalah seri drone yang membuktikan temuan di atas (harga yang semakin tinggi berkorelasi dengan kemudahan terbang).

drone murah

Toy Drone, drone tanpa bantuan sensor canggih

2. TIDAK SEMUA DRONE SIAP UNTUK TERBANG

Ada beberapa singkatan dalam industri drone yang patut Wearinasians pahami, yakni:

  • Ready-To-Fly (RTF), merupakan drone dengan kategori yang siap terbang dan lengkap, tepat setelah wahana tersebut keluar dari boks/kemasan. Sehingga TIDAK ada proses merakit-merakit di produk kategori ini, yang Wearinasians perlukan hanyalah mengisi daya baterai, mengkalibrasi, dan mempersiapkan smartphone atau tablet sebagai layar pengoperasian drone. Contoh drone RTF: Seri DJI Phantom, Inspire, Yuneec Typhoon, 3DR Solo, Xiro Explorer tipe V.
  • Bind-To-Fly (BTF), drone dengan kategori ini, tidak datang langsung dengan remote kontrol bawaan, oleh karena itu Wearinasians harus mempersiapkan transmiter yang kompatibel, tak hanya dari kesamaan sinyal tapi juga kemampuan transmiter untuk "berkomunikasi" dengan drone sesuai protokol yang ditentukan produsen. Contoh: drone-drone balap alias FPV.
  • Almost-Ready-To-Fly (ARF), pengertian drone kategori ini sangatlah luas, oleh karena itu pastikan Wearianasians membaca secara teliti, perangkat apa saja yang tergabung dalam paket drone tersebut. Umumnya, drobe berlabel ARF tidak dibarengi transmiter, receiver, bahkan TIDAK memiliki baterai atau kamera. Contoh drone ARF: DJI Spreading Wings S1000
s-1000

Spreading Wings S1000 salah satu drone yang datang tanpa kamera dan kelengkapan lainnya

3. MEMBELI DRONE ADALAH INVESTASI PANJANG

swarm-of-drones-on-the-factory-lane

Bila Wearinasians berekspektasi untuk membeli drone dibawah harga lima juta rupiah, maka paragraf ini bukanlah untuk Anda, karena drone dengan perangkat lunak dan performa yang layak pakai (layak = memiliki kestabilan dan kejernihan gambar yang mumpuni) saat ini, dibanderol diatas lima juta rupiah.

Sebelum menentukan pilihan, pastikan merek drone yang akan dipilih memiliki aplikasi yang user friendly dan "rajin" melakukan pembaruan firmware. Karena drone era modern sangat bergantung pada kecerdasan perangkat lunak. Ketahui sejak awal, utilitas yang paling Wearinasians perlukan saat mengoperasikan drone, misalnya Wearinasians ingin menghasilkan video dengan beragam bantuan sudut pandang lensa yang berbeda, memilih salah satu dari seri DJI Phantom tentunya bukan pilihan yang paling tepat, mengingat seri DJI Phantom adalah drone dengan kamera yang telah terintegrasi atau fix, berbeda dengan DJI Inspire 1 yang memiliki landasan gimbal yang mampu mengamodir beberapa lensa alternatif, yang tentunya dalam ilustrasi ini, lebih sesuai dengan tujuan.

4. MEMPERHATIKAN TEMPAT PEMBELIAN

Drone mulai semakin mudah ditemukan di beberapa gerai di mall atau via toko online. Metode pembelian baik online atau offline pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, namun hal yang terpenting yang perlu diperhatikan adalah hal berikut:

  • Keabsahan produk: Membeli produk black market atau hand carry tentunya sangat menggiurkan dari segi harga, namun satu hal yang perlu pertimbangkan ialah absennya layanan purna-jual dan hak Wearinasians untuk melakukan klaim bila terjadi cacat produksi pada produk terkait.
  • Service Center: Sampai saat ini, di Indonesia belum ada representatif langsung dari pemegang merek drone yang membuka gerai layanan servis. Oleh karena itu, tempat atau toko yang menjadi penjual drone Wearinasians, akan sangat menentukan pengalaman purna jual yang akan dialami.

5. SERTIFIKASI DRONE?

Sertifikasi merupakan salah satu hal yang kerap dipertanyakan konsumen atau calon konsumen kami di Wearinasia.com. Berdasarkan informasi terkini, belum ada kebijakan dari badan pemerintah yang mewajibkan individu atau pilot drone untuk meregistrasi atau mengambil pelatihan bersertifikasi. Saat ini beberapa sertifikasi yang berseliweran di Indonesia, sifatnya tidak mandatori atau diwajibkan lembaga pemerintah manapun, namun cukup baik untuk Wearinasians coba untuk sekedar mengukur kepiawaiaan dalam menerbangkan drone. Jadi keputusan untuk mengambil sertifikasi atau tidak, diserahkan sepenuhnya pada pemilik drone (setidaknya sampai saat artikel ini ditulis).

Perlu bantuan lebih lanjut dalam menentukan drone pilihan Wearinasians? Silahkan hubungi Customer Service Wearinasia di: 021-54200-599, (WA) 0815-8660-2152.

Leave A Comment

    Shop The Product

    Kemudahan Berbelanja

    Freeshipping

    Gratis ongkos kirim untuk nilai transaksi lebih dari Rp 500.000,00 - Berlaku untuk daerah Jabodetabek

    Cicilan 0%

    Kemudahan melakukan transaksi dengan cicilan 0% dari berbagai macam bank dan perusahan finansial lainnya

    100K Voucher

    Dapatkan potongan sejumlah Rp 100.000,00 untuk transaksi pertama, dengan daftar menjadi member kami.